Apa Itu Layer 1 Blockchain? Penjelasan Lengkap & Contohnya

Published Date:January 22, 2026Read Time:5 menit
profile picture

DRX Admin

Apa Itu Layer 1 Blockchain? Penjelasan Lengkap & Contohnya

Jika Anda mau mengirim Bitcoin dari wallet Anda ke wallet lain, transaksi Anda akan butuh waktu 15 detik sampai beberapa menit untuk difinalisasi.

Mengapa begitu? Ini karena transaksi di blockchain terkadang lambat akibat kemacetan jaringan. Tak hanya itu, kadang biaya gas yang harus ditanggung juga besar.

Mengapa blockchain punya kemampuan memproses transaksi yang terbatas? Artikel ini akan membahas arsitektur layer 1 blockchain yang berpotensi menghambat pemrosesan transaksi.

Ringkasan Singkat:

  1. Layer 1 blockchain adalah lapisan dasar sebuah arsitektur blockchain.
  2. Layer 1 blockchain bekerja memverifikasi dan mengeksekusi segala transaksi di jaringan.
  3. Contoh layer 1 blockchain adalah Bitcoin, Ethereum, Solana, dan BNB.

Definisi Layer 1 Blockchain

Secara sederhana, layer 1 blockchain adalah lapisan dasar dari sebuah arsitektur blockchain. Jadi, saat kita membahas blockchain seperti Ethereum dan Solana, kita merujuk pada arsitektur layer 1-nya.

Layer 1 blockchain memvalidasi dan mengeksekusi transaksi secara mandiri, tanpa dukungan jaringan lain. Biaya transaksi dibayar dengan crypto, biasanya crypto native blockchain itu sendiri.

Cara Kerja Layer 1 Blockchain

Blockchain bekerja seperti buku besar terdesentralisasi. Semua transaksi tercatat di blockchain tanpa bisa dimanipulasi atau diubah. Datanya tidak tersimpan di satu server atau komputer, tetapi tersebar di beberapa komputer yang disebut node.

Fitur Utama Teknologi Blockchain

Untuk memahami cara kerja layer 1 blockchain, kita harus mengetahui fitur-fitur utama yang membentuk keamanan, transparansi, dan efisiensi teknologi blockchain.

  1. Teknologi Buku Besar Terdistribusi: Semua orang dalam jaringan bisa mengakses sebuah buku besar yang sama dan melihat daftar transaksi. Setiap transaksi dicatat hanya sekali dan tidak bisa diubah oleh pihak manapun.
  2. Pencatatan yang Tidak Bisa Diubah: Tidak ada orang yang bisa mengubah atau mengutak-atik transaksi setelah tercatat di buku besar. Jika ada error dalam sebuah transaksi, maka transaksi baru harus ditambahkan untuk memperbaiki error tersebut. Kedua transaksi bisa terlihat di buku besar.
  3. Smart Contract: Semua persetujuan dan keputusan di blockchain dieksekusi secara otomatis oleh smart contract jika syarat dan ketentuan sudah terpenuhi. Smart contract mempercepat transaksi, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga, dan memastikan transparansi dan keamanan transaksi.
  4. Kriptografi: Kriptografi adalah metode mengamankan transaksi dan data di blockchain. Ada dua kunci kriptografik yang diipegang pengguna, yaitu public key dan private key. Public key berperan sebagai alamat untuk menerima crypto dan data, sementara private key memberi akses dan kendali penuh atas aset.

Cara Blockchain Mencatat Transaksi

Teknologi blockchain mencatat segala transaksi dengan aman dan transparan dengan cara berikut.

  1. Transaksi Dicatat di Blok: Sebuah blok berisi detail pergerakan aset, siapa yang terlibat, kapan, dan jumlah transaksi.
  2. Blok Saling Terhubung: Tiap blok dihubungkan dengan blok sebelumnya dan setelahnya, sehingga membentuk rantai data yang aman. Rantai diamankan dengan hash kriptografik yang berperan sebagai nomor identifikasi unik untuk tiap blok.
  3. Blok Membentuk Blockchain: Blok-blok dikelompokkan menjadi blockchain yang tidak bisa dimanipulasi. Tiap blok baru ditambahkan, blockchain jadi lebih aman.

Contoh Layer 1 Blockchain

Layer 1 adalah lapisan utama sebuah blockchain, jadi blockchain-blockchain yang sering kita dengar adalah contoh layer 1 blockchain.

Bitcoin

Cryptocurrency pertama dan terbesar saat ini adalah Bitcoin yang beroperasi di blockchain Bitcoin. Bitcoin dibuat sebagai alternatif digital untuk mata uang nasional saat krisis moneter pada 2008 lalu. Mata uang ini didistribusikan, dan ditransaksikan melalui blockchain ini.

Blockchain Bitcoin menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Work, dan keputusan-keputusan dijalankan secara otomatis oleh smart contract.

Ethereum

Ethereum diluncurkan pada Juli 2015 bukan hanya sebagai blockchain untuk menyimpan cryptocurrency, tetapi juga sebagai platform terdesentralisasi untuk merancang smart contract dan dApp tanpa campur tangan pihak ketiga. Token native Ethereum adalah Ether, yang punya empat kegunaan utama:

  1. Diperjualbelikan sebagai mata uang digital
  2. Instrumen investasi
  3. Membeli barang dan jasa
  4. Membayar biaya transaksi di jaringan Ethereum
Baca Juga: Perbedaan Ethereum dan Bitcoin: Mana yang Lebih Baik untuk Investasi

BNB Chain

Blockchain BNB mencakup Binance Chain yang diluncurkan pada 2019 dan Binance Smart Chain, versi terbarunya yang rilis pada 2020.

Binance berfokus menawarkan opsi trading yang cepat dan terdesentralisasi. Setahun kemudian, Binance Smart Chain diluncurkan untuk menyaingi Ethereum dan berperan sebagai blockchain yang mewadahi pengembangan dApp (Decentralized Application).

Meski diposisikan sebagai pesaing Ethereum, Binance Smart Chain juga kompatibel dengan jaringan Ethereum. Developer bisa melakukan migrasi dApp antara dua blockchain ini dengan mudah.

Binance menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Stake Authority. Validator harus staking minimal 10.000 BNB dan beroperasi secara publik, sehingga reputasi mereka diuji.

Solana

Solana disebut sebagai blockchain berskala web pertama yang mendukung kecepatan transaksi sampai 65.000 transaksi per detik. Layer 1 blockchain ini memperkenalkan inovasi penting, yakni mekanisme konsensus Proof-of-History. Setiap node di Solana punya jam yang memungkinkan jaringan mencapai kosensus waktu dan urutan transaksi. Validasi transaksi bisa dilakukan tanpa menunggu konfirmasi dari node lain, sehingga mengurangi kemacetan dalam jaringan.

Kelebihan dan Kekurangan Layer 1 Blockchain

Kelebihan Layer 1 Blockchain

Teknologi layer 1 blockchain punya berbagai keuntungan, seperti:

  1. Terbuka: Blockchain aksesibel bagi siapa saja.
  2. Bisa Diverifikasi: Informasi di blockchain bisa dilihat dan diverifikasi siapa saja.
  3. Permanen: Data di blockchain tidak bisa dimanipulasi atau dihapus.
  4. Efisien: Teknologi blockchain mengurangi keterlibatan pihak ketiga saat transaksi. Finalisasi transaksi jadi lebih cepat dan lancar.
  5. Aman: Blockchain menggunakan teknik hashing untuk menyimpan transaksi di blok.

Kekurangan Layer 1 Blockchain

Layer 1 blockchain masih punya beberapa kekurangan, antara lain:

  1. Skalabilitas: Layer 1 blockchain kesulitan menanggung jumlah transaksi dan pengguna yang bertambah tanpa mengorbankan keamanan atau desentralisasi.
  2. Konsumsi Energi: Verifikasi transaksi di blockchain butuh energi yang besar.
  3. Makan Waktu: Jika ada kesalahan dalam data yang dimasukkan ke blok, kesalahan itu tidak bisa diperbaiki. Koding seluruh blok harus ditulis ulang, sehingga memakan waktu dan biaya.
  4. Biaya Implementasi Tinggi: Penggunaan dan pemeliharaan blockchain lebih mahal daripada database tradisional.
  5. Performa: Blockchain butuh waktu lebih lama untuk memproses dan memverifikasi transaksi.

Perbandingan Berbagai Layer 1 Blockchain

Tiap layer 1 blockchain dirancang dengan tujuan dan kegunaan masing-masing. Berikut perbandingan beberapa layer 1 blockchain terkenal.

AspekBitcoinEthereumSolanaBNB Chain
AsetBitcoin (BTC)Ether (ETH)Solana (SOL)Binance Coin (BNB)
FungsiMata uang alternatif dan alat penyimpan kekayaanMemfasilitasi pembuatan smart contract dan dAppMemfasilitasi transaksi cepat dan murahEkosistem exchange crypto terbesar
Mekanisme KonsensusProof-of-Work dengan miningProof-of-Stake dengan ETHDual konsensus Proof-of-Stake dan Proof-of-HistoryProof-of-Stake Authority dengan BNB
Penggunaan EnergiSangat tinggiRendahSangat rendahRendah

Kesimpulan

Layer 1 blockchain merujuk pada arsitektur dasar blockchain yang melakukan tugas-tugas utama blockchain, yakni memverifikasi dan mengeksekusi transaksi. Blockchain-blockchain besar yang kita kenal, seperti Bitcoin dan Ethereum, adalah contoh layer 1 blockchain.

Layer 1 bukan satu-satunya arsitektur yang ada pada blockchain. Untuk mengatasi berbagai kekurangan layer 1 blockchain, inovasi layer 2 hadir sebagai solusi. Apa itu layer 2 blockchain? Pelajari definisi dan kegunaannya di artikel Apa Itu Layer-2 Blockchain? Cara Kerja & Keunggulannya Dibanding Layer-1.