- Likuiditas: Tokenisasi aset real meningkatkan likuiditas pasar untuk aset yang biasanya kurang likuid.
- Transparansi: Aset fisik mendapat representsai di blockchain, sehingga bisa diaudit dan dikelola secara transparan. Semua pembelian dan penjualan bisa dilihat oleh siapa saja.
- Aksesibilitas: Akses global ke aset fisik menjadi lebih mudah lewat aplikasi berbasis blockchain. Sebuah aset juga tidak harus dibeli secara utuh, sehingga membuka kesempatan bagi investor pemula yang terhalang dana.
Cara Kerja Tokenisasi Aset Real
Tokenisasi aset real bekerja sebagai representasi hak kepemilikan atas suatu aset. Dalam proses tokenisasi, gambaran digital dari sebuah aset dibuat sebagai jembatan antara aset fisik dan digital.
Pemilihan dan Evaluasi Aset
Tokenisasi aset real dimulai dengan memilih jenis aset dengan potensi tokenisasi yang kuat, seperti real estate, karya seni bernilai tinggi, komoditas, dan logam mulia. Nilai dari aset tersebut dianalisis dan didokumentasi sesuai praktik keuangan standar.
Pembuatan Kerangka Legal
Aset yang sudah ditokenisasi tetap harus mengikuti seperangkat aturan untuk memastikan token digitalnya valid dan benar-benar merepresentasikan aset nyatanya. Di tahap ini, hak-hak yang terkait dengan token tersebut didefinisikan. Tiga jenis hak yang bisa ditokenisasi adalah:
- Hak finansial
- Hak kepemilikan
- Hak penggunaan
Selanjutnya, ada dua struktur tokenisasi yang umum diterapkan untuk tokenisasi aset real.
- Tokenisasi Special Purpose Vehicle (SPV): Dikenal juga sebagai tokenisasi tidak langsung, ini adalah pendekatan yang dilakukan bila aset dipegang oleh sebuah entitas. Entitas tersebut ditokenisasi dan token diterbitkan melalui kumpulan dana para investor. Investor pun mendapat bunga tidak langsung melalui aset nyata yang mendasari token tersebut.
- Tokenisasi Aset Langsung: Di pendekatan ini, yang ditokenisasi bukan entitas pemilik aset, melainkan aset itu sendiri. Token merepresentasikan klaim langsung terhadap aset nyata.
Implementasi Smart Contract
Penerbitan, pelacakan harga, dan pembayaran keuntungan sebuah token yang merepresentasikan aset nyata diatur oleh smart contract. Misalnya, sebuah token real estate punya smart contract yang mengatur distribusi pemasukan dari biaya sewa.
Baca Juga: Apa itu Smart Contract? Pelajari Selengkapnya di Sini
Penyimpanan Aset Nyata dan Token
Sebelum versi digital aset dibuat di blockchain, aset nyata disimpan dan dikelola oleh kustodian atau manajer terpercaya. Setelah itu, token aset nyata bisa dikelola sendiri (self-custody) ataupun dikelola oleh kustodian pihak ketiga.
- Kustodian Pribadi: Pemilik token punya kendali penuh atas private key dan pengelolaan asetnya.
- Kustodian Pihak Ketiga: Kustodian berlisensi menyediakan layanan pengelolaan aset, cocok bagi pengguna yang tidak ingin mengambil risiko memegang dan mengelola asete sendiri.
Penerbitan Token
Representasi kepemilikan aset dibentuk jadi token digital yang disebut token RWA (real-world asset). Token diterbitkan di situs penerbit token ataupun di platform tokenisasi aset real yang berlisensi.
Primary Token Offering
Setelah token aset real diterbitkan, token dijual ke investor melalui primary offering. Setelah diterbitkan, token juga bisa diperjualbelikan di pasar sekunder.
Contoh Aset yang Bisa Ditokenisasi
Secara teknis, segala aset yang punya nilai jual-beli bisa ditokenisasi. Berikut beberapa contoh tokenisasi aset real yang populer.
Real Estate
Real estate yang ditokenisasi bisa dibeli secara fraksional. Dengan begitu, investor dari seluruh dunia bisa memiliki separuh bagian digital dari sebuah real estate. Konsep tokenisasi real estate dipionir oleh platform seperti RealtyShraes dan Harbor.
Instrumen Keuangan
Tokenisasi aset real mentransformasi cara aset keuangan tradisional diperdagangkan dan dikelola. Kini, saham, obligasi, dan derivatif bisa ditokenisasi di platform seperti Kaleido, sehingga pengusaha bisa membuka sumber-sumber pendanaan baru.
Karya Seni dan Barang Koleksi
Sama seperti real estate, karya seni dan barang koleksi bisa dimiliki secara fraksional melalui platform seperti Maecenas dan Masterworks. Tokenisasi karay seni cocok untuk investasi, diversifikasi portofolio, dan cara baru berpartisipasi di pasar karya seni.
Logam Mulia
Logam mulia seperti emas dan perak sudah lama digunakan sebagai instrumen investasi tradisional, tetapi mereka kurang likuid. Tokenisasi aset logam mulia mengatasi masalah ini.
Saat ini, logam mulia yang paling banyak ditokenisasi adalah emas, contohnya proyek Paxos Gold (PAXG) dan XAUm dari Matrixdock. Selain emas, ada pula tokenisasi perak, seperti tSilver (tXAG), dan tokenisasi platinum, contohnya tPLATINUM (TXPT).
Hak Kekayaan Intelektual
Hak kekayaan intelektual (intellectual property) bisa ditokenisasi untuk memonetisasi dan melindungi paten, hak cipta, dan merek dagang. Perdagangan tokenisasi paten dan aset intelektual diwadahi oleh proyek seperti IPwe.
Kredit Karbon
Kredit karbon adalah instrumen keuangan yang mereprentasikan hak perusahaan untuk mengeluarkan sejumlah gas rumah kaca atau karbon dioksida dalam proses operasionalnya. Sama seperti instrumen keuangan biasa, karbon kredit bisa diperjualbelikan untuk kegiatan offset karbon.
Tokenisasi kredit karbon membuat kegiatan perdagangan ini lebih transparan dan efisien. Perusahaan kecil pun bisa membeli atau menjual dengan denominasi lebih kecil. Platform yang mendukung tokenisasi kredit karbon, antara lain Carbonmark dan EcoRegistry.
Peluang Ekonomi Tokenisasi Aset Real
Laporan Big Ideas 2026 dari ARK Invest menunjukkan nilai pasar tokenisasi aset real mencapai $19 miliar di 2025 kemarin. Ini karena tokenisasi aset real mempunya berbagai keuntungan dari segi aksesiblitas, efisiensi, dan transparansi.
Mendemokratisasi akses pasar finansial
Selama ini, kelas aset tertentu, seperti real estate, komoditas, dan modal ventura, hanya bisa diakses oleh perusahaan atau investor kelas atas. Rata-rata investor masih terhalang modal besar, regulasi, dan akses ke pasar global yang terbatas.
Salah satu keunggulan terbesar tokenisasi aset real adalah memberi kesempatan setara bagi semua investor, baik investor institusional maupun retail. Aset bisa dipecah menjadi unit-unit kecil yang lebih murah. Kini, seseorang cukup punya akses internet untuk berinvestasi di aset finansial.
Transaksi murah dan efisien
Sistem keuangan finansial cukup rumit, sehingga proses perdagangan berlangsung lama dan mahal. Sementara itu, berbagai proses tokenisasi diotomatisasi oleh smart contract yang mengurangi kesalahan manusia dan biaya operasional.
Waktu penyelesaian transaksi lebih cepat
Di pasar tradisional, memfinalisasi transaksi bisa makan waktu berhari-hari karena melibatkan berbagai pihak. Sementara itu, tokenisasi aset real memverifikasi dan menyelesaikan transaksi nyaris secara real-time di blockchain.
Transparansi pasar
Tokenisasi aset real menawarkan pengalaman jual-beli aset yang transparan. Siapapun bisa melihat riwayat transaksi aset, kapan dilakukan, siapa yang terlibat, hingga harga belinya.
Bagi investor, transparansi membangun rasa percaya, sebab transaksi tokenisasi aset real tidak rentah penipuan atau manipulasi. Sementara bagi penegak hukum, transparansi memudahkan proses audit.
Regulasi Tokenisasi Aset Real
Prinsip Hukum Tokenisasi Aset Real
Salah satu tantangan terbesar tokenisasi aset real adalah perbedaan regulasi tiap negara mengenai kepemilikan aset. Secara umum, ada tiga prinsip hukum utama yang terlibat dalam tokenisasi aset real.
- Hak Properti: Saat sebuah aset direpresentasikan oleh token digital, harus ada kejelasan mengenai siapa yang memiliki token tersebut dan apa sebenarnya yang dimiliki. Hukum harus menetapkan apakah token hanya mewakilkan kepemilikan atau benar-benar memberi hak nyata.
- Hukum Kontrak: Smart contract mengotomatisasi transaksi tokenisasi aset real, tetapi validitas dan penerapannya dari sudut pandang hukum masih diperdebatkan.
- Hukum Sekuritas: Tokenisasi aset real bisa diklasifikasi sebagai sekuritas, tergantung strukturnya. Jika demikian, token itu serta pemiliknya harus mematuhi berbagai peraturan legal.
Regulasi Tokenisasi Aset Real di Indonesia
Bagaimana regulasi tokenisasi aset real di Indonesia? Menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan), tokenisasi aset real sedang berada di tahap regulatory sandbox, dengan fokus pada tokenisasi aset emas, properti, dan surat berharga negara. Beberapa model bisnis tokenisasi aset real ini telah dinyatakan lulus sandbox pada 2025 kemarin.
Kesimpulan
Tokenisasi aset real adalah inovasi yang membawa miliaran dolar aset fisik ke ekosistem blockchain. Ini membuka akses bagi investor global, mempercepat transaksi, dan meningkatkan transparansi.
Saat ini, real estate, logam mulia, instrumen finansial mendominasi tokenisasi aset real. Namun, tidak menutup kemungkinan berbagai jenis aset investasi lain akan ditokenisasi. Suatu saat nanti, kita bisa saja melihat tokenisasi minyak bumi, perhiasan, atau bahkan mobil vintage.