Volume Transaksi
Salah satu faktor penting dalam analisis on-chain data adalah volume transaksi. Secara sederhana, transaksi yang tinggi berarti pasar sedang ramai.
Namun, tidak semua volume bisa diinterpretasikan secara sama. Volume yang ideal harus mengikuti pergerakan harga. Jika harga naik, tetapi volume transaksi lemah, kemungkinan rally tidak bertahan lama.
Alamat Aktif
Jumlah alamat yang aktif dalam sebuah blockchain mengindikasikan ketertarikan pengguna. Lebih baik lagi jika jumlah alamat aktif meningkat seiring naiknya volume transaksi. Ini mengindikasikan adopsi nyata, bukan keramaian semata.
Distribusi Suplai
Dalam on-chain data, distribusi suplai menunjukkan apakah token dipegang oleh sekelompok whale saja atau didistribusikan secara merata.
Jika kebanyakan token dipegang oleh whale, mereka bisa menggerakan pasar dengan mudah. Distribusi yang sehat adalah ketika token tersebar secara merata. Ini menandakan ekosistem yang digerakkan komunitas.
Total Value Locked (TVL)
Total Value Locked mengindikasikan berapa banyak modal yang dikunci di protokol DeFi. TVL yang tinggi menandakan utilitas dan kepercayaan yang tinggi.
Namun, waspada terhadap angka TVL yang tiba-tiba turun. Ini bisa berarti banyak trader di posisi exit atau bahkan eksploitasi.
Baca Juga: TVL Crypto: Pengertian, Fungsi, dan Pentingnya Total Value Locked di Dunia DeFi
Arus Exchange
Perhatikan arus masuk dan keluar suatu exchange, karena ini kunci mengatur timing transaksi.
- Arus masuk (inflow) tinggi: Orang-orang mengirim koin ke exchange untuk dijual.
- Arus keluar (outflow) tinggi: Koin dikeluarkan dari exchange untuk disimpan dan diakumulasi.
Jika digunakan dengan benar, metrik ini bisa berperan sebagai peringatan sebelum momen pump and dump besar.
Rasio Market Value to Realized Value (MVRV)
Rasio ini menunjukkan apakah market sedang overvalued atau undervalued berdasarkan harga yang dibayar pemegang token. Untung menghitung rasio MVRV, Anda hanya perlu mengetahui dua komponen utama.
MVRV = Market Value / Realized Value
Di mana:
- Market Value = Harga saat ini × total suplai
- Realized Value = Jumlah total nilai aset berdasarkan harga terakhir kali berpindah tangan di blockchain.
Untuk menginterpretasi rasio MVRV, panduan berikut umum digunakan:
- MVRV < 1: Aset sedang undervalued. Bisa jadi sinyal peluang beli dan ada potensi akumulasi.
- MVRV = 1-2: Aset punya nilai wajar (fair value). Pasar stabil dan seimbang.
- MVRV > 3: Aset sedang overvalued. Ada potensi koreksi dan pembalikan harga.
Rasio Network Value to Transactions (NVT)
Rasio ini diibaratkan sebagai rasio P/E (Price-to-Earnings) di dunia crypto dan digunakan untuk mengukur valuasi wajar sebuah aset digital.
NVT = Market Cap / Volume Transaksi On-chain
Jika nilai NVT tinggi, token sedang overvalued karena nilai pasar jauh lebih besar daripada aktivitas transaksi di blockchain. Sebaliknya, jika nilai NVT rendah, token tersebut sedang undervalued dibandingkan penggunaannya.
Untuk menilai rasio NVT, panduan umumnya adalah:
- NVT > 150: Potensi overvalued tinggi, terutama untuk Bitcoin.
- NVT = 50-150: Rentang harga normal tergantung kondisi pasar.
- NVT < 50: Potensi undervalued, terutama jika disertai volume transaksi tinggi yang organik.
Spent Output Profit Ratio (SOPR)
SOPR adalah sebuah metrik untuk melihat apakah token yang sedang dipindahkan berada dalam kondisi untung atau rugi.
SOPR membandingkan nilai fiat suatu koin saat pertama kali dibuat dengan nilai fiat saat koin itu akhirnya dijual. Jika nilainya lebih tinggi saat dipindahkan, berarti pemegang koin mendapat keuntungan. Jika nilai lebih rendah, ia menjual dengan kondisi rugi.
SOPR = Nilai Jual / Nilai Saat Dibuat
Untuk mengetahui kondisi untung-rugi sebuah koin, benchmark ini digunakan:
- SOPR > 1: Pemilik menjual dalam keadaan untung.
- SOPR < 1: Pemilik menjual dalam keadaan rugi.
- SOPR di sekitar 1: Kondisi break even. Penjual tidak untung maupun rugi.
Dune Analytics
- Dashboard dan Query: Pengguna bisa membuat query SQL dari data blockchain yang divisualisasikan sebagai chart dalam dashboard yang bisa dikustomisasi.
- Kolaborasi: Pengguna bisa melihat dan membagikan query dan dashboard orang lain, melakukan forking, dan membuat dashboard mereka sendiri.
- Dukungan Blockchain Luas: Dune Analytics mendukung data dari Ethereum, Bitcooin, Polygon, BNB Chain, Solana, Arbitrum, Avalanche, dan berbagai blockchain lain.
- Pelacakan Aktivitas Wallet: Pengguna bisa menggunakan fitur Transfer API dari Alchemy untuk melacak aktivitas sebuah wallet.
Coin Metrics
- Analisis On-chain: Pengguna bisa mengakses data volume transaksi, hash rate jaringan, dan metrik-metrik penting lain di Bitcoin, Ethereum, Ripple, Litecoin, dan berbagai blockchain lainnya.
- Pembaruan Data Real-Time: CoinMetrics memantau aktivitas blockchain secara terus-menerus dan memperbarui database secara real-time.
- Dashboard Terkustomisasi: Pengguna bisa mengkustomisasi dashboard masing-masing dengan tools analisis yang diinginkan.
- Akses ke API: Developer bisa mengintegrasikan data blockchain ke aplikasi dan workflow mereka.
- CoinMetrics Index: Mencatat 10 crypto terbesar beerdasarkan kapitalisasi pasar.
Glassnode
- Anaiisis On-chain: Metrik Glassnode mencakup data berbasis transaksi (seperti SOPR) dan data berbasis blockchain (seperti metrik hash rate).
- Data Pasar Derivatif: Bukan hanya melacak on-chain data, pengguna juga bisa mengakses data pasar derivatif secara detail.
- Visualisasi Data: Glassnode Studio menawarkan serangkaian chart dan grafik yang menunjukkan data pasar Ethereum, Bitcoin, dan jaringan DeFi secara real-time.
- Akses ke API: Dengan API Glassnode, individu dan perusahaan bisa mengakses kumpulan data on-chain maupun derivatif yang luas.
CryptoQuant
- Analisis On-chain: Mendukung analisis on-chain data untuk Bitcoin, Ethereum, dan token ERC-20 lainnya.
- Analisis Pasar Future Trading: CryptoQuant memvisualisasikan data pasar future trading, termasuk ketertarikan agregat, tingkat pendanaan, rasio jual/beli, dan lain-lain.
- Akses ke API: Pengguna bisa menggunakan data dari CryptoQuant untuk berbagai tools lain dan bahkan menggunakannya untuk mengembangkan software analisis blockchain sendiri.
- Bot Notifikasi: CryptoQuant mengirim notifikasi ke email atau Telegram jika ada perubahan mengenai metrik tertentu.
The Block
- Dukungan Pasar yang Luas: The Block mendukung analisis pasar spot, future trading, ETF, token olahraga, dan lain-lain.
- Analisis Data: Mendukung analisis on-chain data mendalam untuk token Bitcoin, Ethereum, Solana, Polkadot, Aptos, dan masih banyak lagi.
- Insight dan Laporan: Pengguna bisa mengakses analisis dan insight tentang tokenisasi aset nyata, derivatif, data exchange, restaking, peminjaman, TVL, NFT, dan masih banyak lagi.
- Metrik Alternatif: The Block menawarkan berbagai metrik alternatif, seperti traffic website, penggunaan aplikasi, dan metrik sosial.
Coinglass
- Data Crypto Futures: Coinglass menyajikan data dan analisis lengkap untuk pasar future trading crypto, termasuk likuidasi Bitcoin, tingkat funding, dan lain-lain. Data ini diambil dari exchange besar, seperti Binance, OKX, FTX, dan Dydx.
- Notifikasi Coinglass: Pengguna bisa memasang peringatan jika ada perubahan harga di crypto favorit mereka.
- Data Komprehensif: Coinglass mendukung analisis on-chain data untuk lebih dari 1000 crypto. Data yang disediakan mencakup harga saat ini, posisi long dan short, market cap, volume, dan lain-lain.
- Pelacakan Portofolio: Coinglass memungkinkan pengguna untuk memantau aset crypto pilihan dan melacak performa portofolio.
Cara Membaca On-Chain Data
Setelah mengetahui apa itu on-chain data dan indikator-indikator pentingnya, saatnya mengetahui tips membaca on-chain data dengan benar.
Perhatikan Konteks
Arus masuk atau arus keluar yang tiba-tiba meningkat bisa berarti banyak hal. Selalu ingat untuk menggali alasan di balik data yang Anda temukan.
Cari Titik Kesamaan
Saat melakukan analisis on-chain data, tunggu hingga beberapa metrik menunjuk ke arah yang sama. Misalnya, jumlah alamat aktif yang meningkat yang diiringi dengan bertambahnya volume transaksi dan outflow yang tinggi.
Waspada Terhadap Sinyal Palsu
On-chain data tidak selamanya akurat. Misalnya, terkadang exchange memindahkan aset secara internal. Aktivitas dalam blockchain juga bisa mengalami inflasi akibat bot.
Jangan langsung percaya pada data di blockchain. Cari tahu sumber dan penyebab dari sebuah data jika memungkinkan.
Gabungkan dengan Analisis Teknikal dan Fundamental
Analisis on-chain data memang sangat membantu, tetapi jangan meninggalkan analisis fundamental dan teknikal. Trader yang bijak menggabungkan ketiga teknik analisis untuk mendapat gambaran yang paling lengkap.
Kesalahan Umum Analisis On-Chain Data
On-chain data sangat membantu trader dalam membuat keputusan, tetapi masih banyak kesalahan umum yang dilakukan saat menganalisis on-chain data.
- Terlalu bergantung pada on-chain data: Analisis on-chain data harus menjadi salah satu bagian dari strategi trading, bukan sebagai penentu keputusan satu-satunya.
- Mengabaikan analisis fundamental: Selalu pertimbangkan konteks keseluruhan dan faktor-faktor eksternal yang bisa memengaruhi pasar.
- Kurang sabar: Analisis on-chain data butuh kesabaran dan perspektif jangka panjang. Hindari membuat keputusan terburu-buru berdasarkan fluktuasi jangka pendek.
Kesimpulan
Sama seperti keterampilan analisis lainnya, kemampuan analisis on-chain data perlu diasah dengan latihan dan belajar yang berkelanjutan. Dengan keterampilan ini, Anda akan menjadi trader yang mampu memanfaatkan setiap peluang yang baru muncul.
Analisis on-chain data adalah salah satu faktor penting yang membentuk strategi trading yang matang. Namun, analisis teknikal dan fundamental juga sama pentingnya. Pelajari kedua teknik analisis ini di artikel Cara Analisis Crypto untuk Pemula: Fundamental vs Teknikal.