Bitcoin adalah aset crypto pertama dan terbesar saat ini. Dengan sifat 100% digital dan terdesentralisasi, Bitcoin sering disebut “emas digital.” Ini karena Bitcoin punya suplai yang terbatas, yaitu 21 juta koin. Selain itu, sama seperti emas, Bitcoin baru tidak bisa diciptakan sembarangan, melainkan dibuat melalui proses rumit yang disebut mining.
Baca Juga: Apa Itu Mining: Cara Kerja, Jenis, dan Perannya dalam Dunia Kripto
Setelah pasar bullish di 2013 dan krisis ekonomi makro di 2020, status Bitcoin sebagai emas digital makin meluas. Investor retail dan institusional mulai melihat aset ini sebagai perlindungan dari inflasi mata uang fiat.
Namun, tidak semua analis keuangan setuju dengan reputasi “emas digital” Bitcoin. Salah satunya adalah Barry Bannister, Kepala Strategi Ekuitas di perusahaan manajemen kekayaan dan investasi Stifel Financial.
Dalam wawancara dengan CNBC pada 10 Februari kemarin, Bannister berpendapat Bitcoin bukanlah emas digital.
“Jika Anda berpikir soal emas, dan kapan nilai emas naik, secara historis, itu karena inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Tetapi, Bitcoin lebih seperti instrumen finansial spekulatif yang didorong likuiditas tinggi, seperti saham perusahaan teknologi besar.”
Alih-alih emas digital sebagai perlindungan dari inflasi, Bannister berpendapat bahwa Bitcoin adalah aset trading yang didorong likuiditas.
Selain itu, Bannister menunjukkan bahwa reaksi Bitcoin terhadap sinyal ekonomi makro sudah berubah. “Selama 15 tahun, Bitcoin naik setiap kali dolar turun. Sekarang dolar turun, dan Bitcoin ikut turun.”
Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperjualbelikan di harga $67.000. CoinMarketCap mencatat penurunan 2,5% dalam 24 jam dan 26,4% dalam sebulan terakhir.
Penurunan nilai Bitcoin memunculkan banyak spekulasi mengenai harga Bitcoin dalam jangka waktu dekat. Minggu lalu, para analis di Stifel memprediksi harga Bitcoin bisa turun sampai $38.000.
Sementara Ed Engel, analis di bank investasi Compass Point, memprediksi harga Bitcoin bisa kembali menyentuh $60.000 atau bahkan $55.000 sebelum mengalami pemulihan.
Di sisi lain, ada juga analis yang optimis terhadap performa Bitcoin pada tahun 2026. Gautam Chhugani, direktur utama perusahaan riset ekuitas global dan brokerage Bernstein, berkomentar bahwa penurunan harga Bitcoin hanyalah bentuk krisis kepercayaan.
Ia percaya Bitcoin akan mencapai harga tertinggi lagi tahun ini, dengan target $150.000 di akhir tahun. Sebagai referensi, harga tertinggi yang sempat dicapai Bitcoin adalah $126.000 pada Oktober 2025 lalu.
