Kejahatan Crypto Capai $158 Miliar di 2025, Capai Rekor Baru

Published Date:January 29, 2026Read Time:2 menit
profile picture

DRX Admin

Kejahatan Crypto Capai $158 Miliar di 2025, Capai Rekor Baru

Transaksi crypto yang berkaitan dengan aktivitas kriminal mencapai $158 miliar di 2025. Setelah penurunan jumlah transaksi sejak 2021, ini adalah lonjakan pertama yang cukup drastis, yaitu 145% dari 2024.

Dalam 2026 Crypto Crime Report dari perusahaan blockchain intelligence TRM Labs, kenaikan ini menggambarkan perubahan tren kejahatan on-chain akibat aktor negara dan jaringan keuangan profesional.

Menurut pengamatan TRM Labs, ada dua faktor yang mendorong kenaikan jumlah transaksi kriminal ini.

Penghindaran Sanksi Rusia

Penghindaran sanksi yang didominasi Rusia meningkat lebih dari 400% dari tahun ke tahun. Pendorong utamanya adalah ekosistem wallet A7 dan stablecoin A7A5, yang dipatok rubel.

TRM mencatat bahwa A7A5 memproses lebih dari $72 miliar transaksi di 2025, sementara wallet yang menggunakan jaringan A7 mengelola setidaknya $38 miliar. Kelompok wallet A7 ini melayani transaksi ke berbagai platform, termasuk Garantex.

Garantex adalah exchange yang terkenal memfasilitas tindakan ransomware dan kejahatan siber lain, sehingga dikenakan sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat pada Agustus 2025 lalu.

Stablecoin menjadi sarana utama bagi arus uang ilegal, terutama bagi entitas yang kena embargo dan butuh instrumen likuid dan dipatok dolar untuk transaksi lintas negara.

Kenaikan transaksi kriminal menggunakan crypto berjalan seiringan dengan meningkatnya penggunan stablecoin di 2025. Coingecko mencatat kapitalisasi pasar stablecoin meroket 48,9% dan mencapai nilai tertinggi baru, yakni $311 miliar di tahun 2025.

Baca Juga: Apa Itu Stablecoin? Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Contoh Lengkap

Tekanan Geopolitik

Faktor kedua yang mendorong peningkatan transaksi ilegal berbasis crypto adalah tekanan geopolitik yang mendorong pemain-pemain negara menggunakan crypto sebagai infrastruktur keuangan inti dan bukan lagi sebagai upaya terakhir. Dengan kata lain, crypto mulai diinstitusionalisasi oleh berbagai aktor negara yang kena sanksi Amerika Serikat.

Contohnya Venezuela, yang menggunakan crypto untuk mendukung pembayaran dalam dan luar negeri serta aktivitas keuangan negara lainnya.

Sementara di Tiongkok, volume crypto meningkat dari $123 juta di 2020 menjadi $103 miliar di 2025, seiring dengan meningkatnya layanan escrow dan jaringan perbankan bawah tanah.

Kesimpulan

Seiring meluasnya adopsi crypto, penggunaan crypto untuk aktivitas ilegal pun meningkat. Aktor bukan hanya individu atau organisasi, tetapi sudah memasuki skala negara. Crypto bukan sekadar alat transaksi atau investasi, tetapi alat membangun ekonomi gelap yang berjalan berdampingan dengan ekonomi yang kita pantau sehari-hari.

Share

DiscordTelegramx-twitter
Transaksi crypto yang berkaitan dengan aktivitas kriminal naik 145% dari 2024.