Kasus exploit pada KelpDAO kembali menimbulkan kekhawatiran. Adanya angka nilai $292 juta yang hilang dari KelpDAO sehingga total value locked (TVL) di sektor DeFi dilaporkan turun hingga $13 miliar.
Tanpa membaca data yang jelas, sekilas angka tersebut tentunya mengkhawatirkan. Padahal, ternyata penurunan nilai tersebut bukan sepenuhnya karena dana yang hilang akibat exploit yang terjadi di pertengahan bulan april. Penurunan nilai tersebut berasal dari struktur keuangan yang sebelumnya sudah diperbesar secara artifisial.
Leverage dan looping dalam sistem DeFi juga memperbesar dampak penurunan nilai. Di dalam ekosistem DeFi, aset seperti rsETH banyak digunakan sebagai jaminan di protokol seperti Aave. strategi looping banyak diterapkan dalam sistem ini.
Sistem looping ini diterapkan dengan cara menyetorkan aset sebagai jaminan untuk meminjam aset lain, kemudian aset tersebut digunakan kembali untuk menyetor lagi. Proses ini bisa digunakan berulang kali sehingga memungkinkan satu aset dihitung berkali-kali dalam TVL. Masalahnya, ketika terjadi gangguan seperti exploit, struktur dan sistem DeFi yang cukup rapuh menyebabkan adanya efek domino yang berpotensi memperbesar penurunan nilai.
Kasus exploit yang terjadi pada DeFi pada pertengahan April ini bukan lah yang pertama kali. Sebelumnya, industri ini telah menghadapi krisis besar seperti runtuhnya Terra, serta kasus peretasan besar pada Wormhole dan Ronin. Sehingga, narasi bahwa DeFi akan mati bukan lah hal baru. Meskipun cukup berdampak besar, DeFi tetap bertahan dan terus berkembang. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem DeFi masih memiliki daya tahan yang lebih kuat dari yang diasumsikan.
Dibanding melihat kasus ini sebagai momen awal kehancuran DeFi, para analis menganggap penurunan ini sebagai proses repricing atau penyesuaian ulang risiko. Meskipun ada aliran arus keluar dari Aave, namun itu tidak menjadi indikasi penuh sebagai keluarnya dana dari DeFi. Sebagian besar dana tersebut justru berpindah ke protokol lain seperti Spark yang justru dianggap lebih aman.
Fenomena ini menunjukan bahwa investor tidak langsung meninggalkan DeFi, setelah adanya kasus exploit, melainkan menjadi lebih selektif dalam pemilihan platform aset. Kasus exploit ini justru menjadi pengingat bagi investor bahwa ekosistem ini masih terus berkembang dan beradaptasi. Meningkatnya kesadaran terhadap risiko di dalam sistem DeFi, memunculkan potensi besar akan adanya sistem yang jauh lebih aman, transparan, dan efisien.
