Tokenisasi Bukan Lagi Eksperimen, Ini Kata CEO Consensys

Published Date:May 6, 2026Read Time:1min
profile picture

DRX Admin

Tokenisasi Bukan Lagi Eksperimen, Ini Kata CEO Consensys

Di ajang Consensus Miami 2026, Joseph Lubin, salah satu pendiri Ethereum sekaligus CEO Consensys, menyatakan bahwa dunia sedang memasuki fase di mana hampir seluruh aktivitas ekonomi akan ditokenisasi. Menurutnya, tokenisasi kini bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan arah perkembangan yang semakin nyata dalam sistem keuangan global.

Secara umum, tokenisasi adalah proses mengubah suatu aset atau data menjadi token digital di dalam sistem blockchain. Dalam konteks yang lebih luas, tokenisasi tidak hanya terbatas pada perlindungan data seperti nomor kartu kredit atau identitas pribadi, tetapi juga mencakup representasi aset keuangan seperti stablecoin, obligasi, hingga aset dunia nyata (real-world assets/RWA) dalam bentuk digital yang dapat diperdagangkan secara on-chain.

Saat ini, penerapan tokenisasi sudah mulai terlihat dalam berbagai aspek, mulai dari pembayaran digital, integrasi sistem berbasis API, hingga penggunaan teknologi biometrik. Seiring waktu, ekonomi global pun perlahan bergerak ke arah sistem on-chain, di mana transaksi dan kepemilikan aset dicatat langsung di blockchain.

Consensys sebagai perusahaan yang didirikan pada 2014 oleh Lubin berperan dalam membangun infrastruktur, alat pengembang, serta aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang berfokus pada ekosistem Ethereum. Lubin menjelaskan bahwa evolusi industri kripto dimulai dari Bitcoin sebagai aset digital terdesentralisasi pertama, hingga berkembang ke Ethereum yang memungkinkan siapa saja menciptakan token tanpa harus membangun blockchain baru.

Dikutip dari CoinDesk, menurut Joseph Lubin, teknologi ini kini telah mencapai tingkat kesiapan yang cukup matang untuk menarik minat institusi keuangan tradisional maupun regulator. Hal ini didukung oleh keandalan, keamanan, serta skalabilitas Ethereum yang terus berkembang. Seiring dengan itu, tokenisasi juga mengalami perluasan, dari stablecoin menuju instrumen keuangan yang lebih kompleks seperti obligasi dan berbagai aset dunia nyata lainnya.

Lubin juga menyoroti bahwa perkembangan teknologi seperti layer-2 membantu meningkatkan kapasitas transaksi di jaringan Ethereum, sementara inovasi seperti komposabilitas memungkinkan berbagai sistem blockchain untuk saling terhubung. Hal ini membuka peluang bagi ekosistem keuangan yang lebih efisien dan terintegrasi.

Ia juga menggambarkan ETH sebagai “komoditas kepercayaan,” yakni aset yang berperan penting dalam mengamankan dan memfasilitasi transaksi di jaringan. Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi yang berpindah ke blockchain, peran ini berpotensi memperkuat nilai ETH dalam jangka panjang.

Meski demikian, Lubin mengakui bahwa sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk gangguan teknis dan risiko keamanan. Namun, ia menilai hal tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan teknologi. Dengan kolaborasi yang terus terjalin antar pelaku industri, ekosistem blockchain diyakini akan semakin matang dan siap mendukung transformasi ekonomi global di masa depan.


Share

DiscordTelegramx-twitter