Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Iran memberlakukan kembali kontrol terhadap Selat Hormuz yang justru memicu reaksi tajam dari pasar global. Harga minyak Brent melonjak lebih dari 5% sementara saham eropa dan Amerika Serikat mengalami penurunan.
Ditengah gejolak tersebut, kripto menunjukan respon yang relatif lebih stabil.
Menurut data dari CoinDesk, Bitcoin tercatat turun sekitar 1,6% ke level $74,335 dalam 24 jam terakhir. Meskipun kini melemah, penurunan ini termasuk gerakan kecil dibandingkan lonjakan di pasar energy dan tekanan pada ekuitas global. Sementara itu, Ether dan Solana masing-masing turun di bawah 3%, menunjukan bahwa koreksi masih dalam batas wajar.
Perbedaan reaksi ini menjadi sorotan utama. Karena, dibandingkan dengan aset safe haven tradisional, kripto seolah lebih mampu menyeimbangkan nilainya ditengah huru-hara geopolitik yang terjadi dalam jangka pendek.
Dalam beberapa kejadian sebelumnya, setiap lonjakan risiko geopolitik cenderung memicu penurunan yang lebih dalam. Namun kali ini, dampak penurunannya semakin terbatas.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa pasar kripto mungkin telah mengantisipasi risiko geopolitik.
Selain itu, kehadiran investor institusional dan permintaan dari spot ETF mulai membuat terciptanya support yang lebih kuat. Hal ini mengurangi volatilitas ekstrem yang sebelumnya sering terjadi.
Ke depannya perhatian pasar akan tertuju pada nilai Bitcoin yang masih berkisar $74,000 hingga $73,000. Jika bitcoin mampu bertahan di atas level ini meski tensi geopolitik meningkat, narasi bahwa kripto dapat berfungsi sebagai “geopolitical shock absorber” akan semakin menguat.
Sebaliknya, jika tekanan berlanjut dan harga turun di bawah level tersebut, ketahanan ini bisa kembali dipertanyakan.
Dalam kondisi pasar global yang penuh ketidakpastian, peran Bitcoin kini mulai bergeser. Dari yang awalnya sekadar aset spekulatif menuju instrumen yang lebih defensif terhadap risiko global.
