Bitcoin sudah menjadi aset kripto terbesar di dunia selama lebih dari satu dekade. Namun, masih banyak investor tradisional yang mengabaikan nilai aset ini.
Salah satunya adalah Vanguard, perusahaan penasihat investasi asal Amerika Serikat yang kembali mempertanyakan kredibilitas Bitcoin pada Kamis lalu.
Dalam konferensi ETFs in Depth, John Ameriks selaku pemimpin global ekuitas kuantitatif di Vanguard mengemukakan pendapat yang cukup kontroversial. Ia berkata bahwa Bitcoin hanya aset spekulatif, sehingga tidak ada bedanya dengan mainan koleksi seperti Labubu yang sedang tren.
“Susah bagi saya untuk melihat Bitcoin sebagai sesuatu yang lebih dari Labubu digital,” ungkap eksekutif Vanguard ini. Ia berpendapat Bitcoin tidak punya cukup arus kas dan sifat kumulatif yang dicari Vanguard saat mengevaluasi investasi jangka panjang.
Ia juga berpendapat bahwa teknologi blockchain tidak punya bukti konkrit bisa memberikan nilai ekonomis jangka panjang.
Pernyataan Ameriks ini sejalan dengan pendapat founder Vanguard, investor legendaris Jack Bogle. Pada 2017, almarhum Bogle mengemukakan pernyataan yang memecah pendapat para investor.
“Hindari Bitcoin selayaknya virus. Apakah saya jelas?” ucap Bogle pada acara Dewan Hubungan Luar Negeri yang dilaporkan CNBC pada 29/11/2017.
Bogle melanjutkan, “Tidak ada yang mendukung Bitcoin kecuali harapan Anda bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi dari harga beli.”
Pada saat itu, nilai Bitcoin masih berada di angka $11.000. Namun, di pasar kripto yang volatil, sangat banyak yang bisa berubah dalam hitungan hari, apalagi tahun.
Kini, harga Bitcoin sekitar $90.000 dengan jumlah pemegang yang terus bertambah. Bahkan, Vanguard mulai menyediakan akses ke trading kripto pada awal bulan ini.
Pengelola aset terbesar kedua di dunia yang termasuk konvensional ini telah mengizinkan 50 juta klien mereka mengakses kripto seperti Ether, XRP, Solana, dan tentu saja, Bitcoin.
Sebagai salah satu eksekutif Vanguard yang belum mengakui potensi dan peluang Bitcoin, Ameriks memberi tanggapan. “Kami mengizinkan orang-orang memegang dan membeli ETF ini di platform kami jika mereka mau, tetapi mereka harus melakukannya dengan hati-hati.”
Ameriks juga menambahkan bahwa Vanguard memang memberi akses ke kripto, tetapi tidak akan memberi saran token kripto mana yang sebaiknya dibeli atau dijual.
Sebelumnya, Vanguard mengumumkan tidak akan mendekati produk yang berkaitan dengan kripto. Keputusan Vanguard membuka akses ke kripto sekarang mendemonstrasikan bagaimana dunia keuangan tradisional dan kripto terus melebur menjadi satu.
Hal ini diiringi dengan makin banyaknya investor muda yang memiliki aset kripto. Studi Zerohash bahkan menunjukkan bahwa 35% investor menarik dana mereka dari layanan pengelola keuangan yang tidak menawarkan produk kripto.
Investor individu maupun institusional harus mampu beradaptasi dengan kehadian kripto di dunia investasi. Terlepas dari pernyataan skeptis dari Ameriks dan Bogle, popularitas dan nilai Bitcoin terus meningkat.
Di sisi lain, investor tidak boleh langsung membeli Bitcoin tanpa melakukan riset menyeluruh. Pelajari cara melakukan riset token mandiri agar menjadi investor bijak melalui artikel Apa Itu DYOR: Arti, Pentingnya, dan Cara Melakukannya di Dunia Kripto.
