Meski sudah dilengkapi dengan teknologi kompleks, dunia crypto belum sepenuhnya bebas dari ancaman hacker. Tak jarang, satu kelemahan kecil berujung pada kebobolan yang menimbulkan kerugian ratusan juta.
Salah satunya adalah Balancer, decentralized exchange ternama yang sayangnya harus menggulung tikar setelah kebobolan $116 juta.
Balancer adalah salah satu Automated Market Maker (AMM) pertama di Decentralized Finance (DeFi). Diluncurkan pada tahun 2020 di blockchain Ethereum, AMM memungkinkan pengguna untuk menjual beli aset secara langsung melalui smart contract tanpa membutuhkan perantara.
AMM menggantikan order book yang umum digunakan di bursa tradisional dengan konsep liquidity pool. Balancer sendiri memungkinkan pengguna membuat liquidity pool terkustomisasi yang bisa menampung banyak jenis token dengan jumlah dinamis. Versi kedua dari protokol ini menghadirkan sistem penyimpanan terpadu.
Baca Juga: Apa Itu Liquidity Pool: Pengertian, Cara Kerja, dan Peran Pentingnya di Dunia DeFi
Sayangnya, inilah yang menjadi pemicu kejatuhan Balancer. Pada November 2025, arsitektur penyimpanan v2 Balancer diserang. Penyerang memanipulasi smart contract untuk melakukan transaksi yang menguras $116 juta dari dana yang disimpan di Balancer.
Tak hanya itu, sifat terpadu milik Balancer membuat berbagai liqudity pool berinteraksi secara mendalam. Dana yang dicuri segera dilarikan ke crypto wallet baru dan hampir mustahil untuk dipulihkan.
Akhirnya, pada 24 Maret lalu, co-founder Balancer, Fernando Martinelli, mengkonfirmasi bahwa ia akan menutup Balancer Labs, perusahaan di balik Balancer. Keputusan ini dibuat setelah serangan pada November 2025 yang menimbulkan masalah legal dan finansial berkepanjangan yang membuat operasional Balancer sulit untuk diteruskan.
Namun, Marticelli menegaskan bahwa protokol Balancer sendiri tidak akan sepenuhnya berhenti. Balancer akan mengalami reset struktural, di mana staf inti akan mengerjakan struktur operasional baru.
“Saya percaya Balancer masih bisa memutarbalikkan keadaan dan membuktikan pada token holder bahwa ada kecocokan produkd dengan pasar dan keberlanjutan,” pungkas Marticelli.
