Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan-serangan terkoordinasi terhadap Iran. Dalam beberapa hari, lalu lintas perairan di Selat Hormuz dihentikan total. Kapal-kapal yang mengantar pasokan minyak dunia tidak bisa melewati selat ini, sehingga harga minyak melambung tinggi dari $60 per barel menjadi $100.
Kelangkaan minyak ini mengguncang perekonomian, termasuk crypto. Para investor mulai bertanya-tanya, bagaimana harga minyak dan ketegangan geopolitik berdampak pada crypto, khususnya Bitcoin? Riset baru dari Hashrate Index menjelaskan korelasi keduanya.
Kabar baiknya, minyak sangat jarang dipakai dalam proses mining Bitcoin. Kebanyakan negara menggunakan sumber daya gas, batu bara, atau air untuk menghasilkan listrik, bukan minyak mentah.
Bagaimana dengan negara-negara dekat Teluk Oman dan Teluk Persia, seperti Uni Emirat Arab dan Oman? Riset menunjukkan negara-negara ini berkontribusi sebesar 6% terhadap total hashrate jaringan Bitcoin. Hashrate adalah ukuran kekuatan komputasi sebuah jaringan blockchain.
Jadi, harga minyak tidak berdampak besar terhadap ketersediaan Bitcoin melalui mining. Namun, tingginya harga minyak mentah tetap berdampak pada penghasilan investor Bitcoin. Guncangan geopolitik akibat perang, penutupan Selat Hormuz, sampai keterbatasan sumber daya berdampak pada pasar modal global.
Dengan naiknya harga minyak, bank sentral terdorong untuk menaikkan suku bunga. Ekspektasi pasar bergeser dan modal berotasi dari aset dengan volatilitas tinggi. Hal ini terbukti saat Bitcoin jatuh 6,4% dalam 24 jam saat perang AS-Iran bermula.
Kesimpulannya, kenaikan harga minyak punya dampak sangat kecil terhadap ketersediaan Bitcoin. Namun, kenaikan ini tetap menunjukkan kondisi geopolitik yang tidak stabil, sehingga tetap berpengaruh pada harga Bitcoin.
